Kamis, 23 Februari 2012

AL-QUR'AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT

Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"

Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayanh dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"

Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."

TIDAK AKAN MASUK NERAKA ORANG YANG MENANGIS 
KERANA TAKUT AKAN ALLAH SWT

Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Bahwa tidak akan masuk neraka orang menangis kerana takut kepada Allah sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya."
Dalam sebuah kitab Daqa'iqul Akhbar menerangkan bahwa akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat nanti, dan sangat beratlah timbangan kejahatannya, dan telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam neraka.
Maka salah satu daripada rambut-rambut matanya berkata, "Wahai Tuhanku, Rasul Engkau Nabi Muhammad S.A.W telah bersabda, sesiapa yang menangis kerana takut kepada Allah S.W.T, maka Allah mengharamkan matanya itu ke neraka dan sesungguhnya aku menangis kerana amat takut kepada-Mu."

Akhirnya Allah S.W.T mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka dengan berkat sehelai rambut yang pernah menangis kerana takut kepada Allah S.W.T. Malaikat Jibril A.S mengumumkan, telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut."
Dalam sebuah kitab lain, Bidayatul-Hidayah, diceritakan bahwa pada hari kiamat nanti, akan didatangkan neraka jahanam dengan mengeluarkan suaranya, suara nyalaan api yang sangat menggerunkan, semua umat menjadi berlutut kerana kesusahan menghadapinya. Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, "Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kau kerjakan." (Surah al-Jatsiyah ayat 28)

Sebaik saja mereka menghampiri neraka, mereka mendengar kegeraman api neraka dengan nyalaan apinya, dan diterangkan dalam kitab tersebut bahwa suara nyalaan api neraka itu dapat didengar sejauh 500 tahun perjalanan. Pada waktu itu, akan berkata setiap orang hingga Nabi-nabi dengan ucapan, "Diriku, diriku (selamatkanlah diriku Ya Allah) kecuali hanya seorang nabi saja yang akan berkata, "Umatku, umatku."
Beliau ialah junjungan besar kita Nabi Muhammad S.A.W. Pada masa itu akan keluarlah api neraka jahim seperti gunung-gunung, umat Nabi Muhammad berusaha menghalanginya dengan berkata, "Wahai api! Demi hak orang-orang yang solat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusyuk, demi hak orang-orang yang berpuasa, supaya engkau kembali."

Walaupun dikata demikian, api neraka itu tetap tidak mahu kembali, lalu malaikat Jibril berkata, "Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat Muhammad S.A.W"
Kemudian Jibril membawa semangkuk air dan Rasulullah meraihnya. Berkata Jibril A.S. "Wahai Rasulullah, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya." Lalu Baginda mengambil dan menyiramkannya pada api itu, maka padamlah api itu.
Setelah itu Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada Jibril A.S. "Wahai Jibril, Apakah air itu?" Maka Jibril berkata, "Itulah air mata orang derhaka di kalangan umatmu yang menangis kerana takut kepada Allah S.W.T. Sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api itu." Maka padamlah api itu dengan izin Allah S.W.T.

Telah bersabda Rasulullah S.A.W, " Ya Allah anugerahilah kepada kami dua buah mata yang menangis kerana takut kepada-Mu, sebelum tidak ditemunya air mata."

AL QUR'AN

The Quran (English pronunciation: /kɒˈrɑːn/ kor-ahn; Arabic: القرآن‎ al-qurʾān, IPA: [qurˈʔaːn],[variations] literally meaning "the recitation"), also transliterated Qur'an, Koran, Alcoran, Qur’ān, Coran, Kuran, and al-Qur’ān, is the central religious text of Islam, which Muslims consider the verbatim word of God[1] (Arabic: الله‎, Allah). It is regarded widely as the finest piece of literature in the Arabic language.[2][3][4][5][6]
The Quran is composed of verses (Ayah) that make up 114 chapters (suras) of unequal length which are classified either as Meccan or Medinan depending upon their place and time of revelation.[7] Muslims believe the Quran to be verbally revealed through angel Jibrīl (Gabriel) from God to Muhammad gradually over a period of approximately 23 years beginning in 610 CE, when Muhammad was 40, and concluding in 632 CE, the year of his death.[1][8][9]
Shortly after Muhammad's death the Quran was compiled into a single book by order of the first Caliph Abu Bakr and at the suggestion of his future successor Umar. Hafsa, Muhammad's widow and Umar's daughter, was entrusted with that Quranic text after the second Caliph Umar died.[10] When the third Caliph Uthman began noticing slight differences in Arabic dialect, he sought Hafsa's permission to use her text to be set as the standard dialect, the Quraish dialect now known as Fus'ha (Modern Standard Arabic). Before returning the text to Hafsa, Uthman made several thousand copies of Abu Bakr's redaction and, to standardize the text, invalidated all other versions of the Quran. This process of formalization is known as the "Uthmanic recension".[11] The present form of the Quran text is accepted by most scholars as the original version compiled by Abu Bakr.[11][12]
Muslims regard the Quran as the main miracle of Muhammad, the proof of his prophethood[13] and the culmination of a series of divine messages that started with the messages revealed to Adam, regarded in Islam as the first prophet,[14] and continued with the Suhuf Ibrahim (Scrolls of Abraham),[15] the Tawrat (Torah or Pentateuch) of Moses,[16][17] the Zabur (Tehillim or Book of Psalms) of David,[18][19] and the Injil (Gospel) of Jesus.[20][21][22] The Quran assumes familiarity with major narratives recounted in Jewish and Christian scriptures, summarizing some, dwelling at length on others and in some cases presenting alternative accounts and interpretations of events.[23][24][25] The Quran describes itself as a book of guidance, sometimes offering detailed accounts of specific historical events, and often emphasizing the moral significance of an event over its narrative sequence.[26][27]

Rabu, 22 Februari 2012

 Kelahiran Nabi Muhammad SAW Sampai Kerasulannya

Umat islam yang baik tentunya mengetahui sejarah Nabinya. Orang yang tahu sejarah akan menjadikan dirinya orang yang santun, beradab, tidak sombong, ikhlas dan lain-lain.
Sejarah Nabi Muhammad Saw wajib diketahui seluruh umat islam, karena dengan mempelajari sejarahnya kita akan mengetahui bagaimana latar belakangnya, bagaimana karakternya, bagaimana wawasannya. Setelah mengetahui sejarah perjuangannya akhirnya kita meneladaninya.
1         Situasi Mekah Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW lahir situasi masyarakat Mekah dan sekitarnya pada saat itu sedang mengalami zaman kegelapan. Masyarakat Mekah kehilangan kendali, tidak ada panutan yang dapat meuntun kearah kebaikan, adanya hanyalah kehidupan jahiliya. Perilaku masyarakat senantiasa bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan. Tidak ada yang menyembah Allah. Masa itu lebih dikenal dengan zaman jahiliyah, yakni zaman kebodohan atau kegelapan terhadap kebenaran. Tatanan sosial dan akhlak tidak berjalan semestinya, yang ada hanyalah kehidupan rimba, yang kuat senantiasa menindas yang lemah, kaum wanita menjadi sasaran tindak kejahatan, dan masih banyak lagi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada masa itu.
Dalam situasi masyarakat semacam itulah Nabi Muhammad dilahirkan dan pada saatnya akan menjadi pemimpin umat yang mampu membawa peradaban manusia ke arah kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.
Nabi Muhammad SAW adalah keturunan bangsawan Quraisy, ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusai bin Kilab Murrah dari golongan Arab Bani Ismail. Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Kilab bin Murrah. Dilihat dari silsilah keturunan, antara ayah dan ibu Nabi Muhammad SAW keduanya berasal dari keturunan bangsawan dari kabilah Arab.
Nabi Muhammad SAW dilahirkan dalam keadaan yatim, ayahnya yang bernama Abdullah meninggal di kala Nabi Muhammad SAW dalam kandungan ± 7 bulan. Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul awal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 M.
Disebut tahun gajah karena pada saat kelahiran Nabi Muhammad bersamaan dengan peristiwa pemberontakan yang dipimpin oleh Abrahah dengan segenap pasukannya dengan tujuan untuk menghancurkan Kakbah. Pada saat itu Abrahah mengendarai gajah. Sehingga tahun tersebut lebih dikenal dengan tahun gajah. Namun Allah menghadangnya dengan mengirim pasukan burung ababil nntuk menghancurkan pasukan Abrahah sehingga penyerangan Ka'bah mengalami kegagalan, kondisi Ka'bah tidak mengalami kerusakan, (cerita selengkapnya baca kutipan Surah Al-Fil).

2         Masa Pengasuhan Halimah Sa'diyah
Sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab yang berada di kota Mekah pada saat itu, setelah anaknya lahir disusukan dan dititipkan pengasuhannya kepada orang lain yang tinggal tidak jauh dari kota Mekah, yakni di dusun yang jauh dari kebisingan kota dan memiliki kebiasaan yang fasih dan baik, begitu juga Nabi Muhammad SAW pada saat itu juga diserahkan pengasuhannya kepada orang lain yang bernama Halimah Sa'diyah dari Bani Saad kabilah Hawazin, tempat tinggalnya tidak jauh dari kota Mekah. Di perkampungan Bani Saad inilah Nabi Muhammad SAW diasuh dan dibesarkan sampai berusia lima tahun.
Selama dalam pengasuhan Halimah Sa'diyah Nabi Muhammad SAW mengalami pertumbuhan yang sangat bagus. Pada usia lima bulan Nabi Muhammad sudah bisa berjalan, pada usia sembilan bulan sudah pandai berbicara dan pada saat berusia dua tahun Nabi Muhammad SAW sudah bisa mengikuti anak-anak Halimah Sa'diyah untuk menggembala kambing.
Setelah lima tahun diasuh oleh Halimah Sa'diyah, Muhammad SAW diserahkan kembali kepada ibunya yang tinggal di Mekah. Setahun kemudian, kira-kira umur enam tahun Nabi Muhammad SAW dibawa ibunya ke Madinah bersama-sama dengan Ummu Aiman (hamba sahaya) dengan maksud untuk menunjukkan makam ayahnya yang telah meninggal sebelum Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Tinggal di Madinah kira-kira satu bulan, kemudian kembali lagi ke Mekah.
3         Masa Pengasuhan Abdul Muthalib dan Abu Thalib
Di tengah perjalanan pulang dari Madinah ibu Nabi Muhammad SAW jatuh sakit, dan akhirnya meninggal sebelum sampai di Mekah. Jasad beliau dimakamkan di desa Abawa' yang terletak antara Madinah dan Mekah kurang lebih 23 mil di sebelah selatan Madinah.
Sepeninggal ayah dan ibunya, Nabi Muhammad hidup sebagai yatim piatu, ayahnya meninggal ketika Nabi Muhammad SAW masih dalam kandungan, berikut ditinggal ibunya ketika berusia 6 tahun. Bisa dibayang-kan betapa sedih dan nestapanya beliau waktu itu, di usia enam tahun sudah tidak berayah dan tidak beribu. Sejak itulah kehidupan Nabi Muhammad SAWdi bawah asuhan saudara-saudaranya, yaitu Abdul Muthalib dan Abu Thalib, beliau adalah kakek dan pamannya.
Abdul Muthalib adalah pemuka Quraisy yang sangat disegani. Dalam pengasuhannya Nabi Muhammad SAW mendapatkan kasih sayang secara cukup karena kakeknya sangat memperhatikan dan menyayanginya. Namun situasi semacam ini tidak berjalan lama, karena dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal dunia pada usia 82 tahun. Sepeninggal Abdul Muthalib, Nabi Muhammad diasuh pamannya yang bernama Abu Thalib, waktu itu Nabi Muhammad SAW berusia 8 tahun.

4         Pernikahan dengan Siti Khadijah
Sejak usia anak-anak hingga dewasa Nabi Muhammad memiliki kepribadian yang sangat terpuji. Beliau terkenal cerdas, jujur, berbudi luhur dan mempunyai perilaku yang sangat santun, terpuji dan tekun dalam bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beliau senantiasa berusaha sendiri dengan bekerja. Beliau adalah pekerja keras, ulet, dan tekun.
Memasuki usia 25 tahun beliau bekerja di tempatnya Siti Khadijah untuk membantu berdagang. Siti Khadijah adalah pedagang yang sangat kaya. Sejak awal Siti Khadijah sangat mengagumi Nabi Muhammad, karena kejujuran dan kepribadiannya, karena itulah Siti Khadijah berminat untu menjadikannya suami.
Siti Khadijah saat itu berstatus janda berusia 40 tahun. Ringkas cerita Siti Khadijah melamar Nabi Muhammad SAW dan lamaran diterima, jadilah beliau berdua sebagai suami istri dan dikaruniai 6 orang anak, yaitu: Al Qasim, Abdullah, Zaenab, Ruqayah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Al Qasim dan Abdullah meninggal semasa masih kecil.
Kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad SAW diliputi kebahagiaan Kehidupan keluarga Nabi Muhammad menerapkan prinsip hidup sederhana suka menolong dan membantu orang lain, sehingga masyarakat sekitarnya sangat menghormati dan meneladani keluarga Nabi Muhammad SAW.
5         Nabi Muhammad SAW Menjadi Rasul
Memasuki usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW sering berkhalwat (berdiam diri dengan merenungkan segala sesuatu dan memohon petunjuk kepaai Allah), hal tersebut dilakukan seiring dengan berbagai masalah yang dihadapi terutama berkaitan dengan situasi masyarakat Mekah pada saat itu.
Dalam berkhalwat nabi Muhammad SAW lebih sering memilih tempat yang jauh dari keramaian, dengan harapan lebih tenang dan dapat berpikir secara jernih dan lebih khusyuk dalam berzikir kepada Allah. Salah satu tempat yang digunakan untuk berkhalwat adalah di Gua Hira', di tempat inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dari Allah. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadan bertepatan dengan tanggal 6 Agustus tahun 610 M.
Dalam catatan sejarah diterangkan bahwa ketika Nabi Muhammad sedang berkhalwat di Gua Hira', beliau didatangi Malaikat Jibril dengan membawa wahyu dari Allah dan menyuruh Nabi Muhammad SAW untuk membacanya. Malaikat berkata, "Bacalah." Kemudian beliau menjawab, "Aku tidak dapat membaca', hal tersebut diulang-ulang sampai tiga kali. Nabi Muhammad tetap menjawab " Aku tidak dapat membaca". Dan akhirnya Nabi bertanya, "Apa yang kubaca?" Selanjutnya Malaikat Jibril membacakan wahyu Allah tersebut, sebagaimana kutipan terjemah ayat berikut: 
Artinya:"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Yang menciptakan. Yangmenjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu teramat Mulia. Yang mengajarkan dengan pena(tulis baca). Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (Q.S. Al-'AIaq: 1-5)
Setelah Malaikat Jibril membacakan ayat tersebut, lalu Nabi Muhammad SAW menirukannya, sesaat kemudian Malaikat Jibril meninggalkan Nabi Muhammad SAW. Dengan diterima wahyu Allah tersebut resmilah Muhammad ditetapkan oleh Allah sebagai rasul yang bertugas untuk menyampaikan risalah kepada umatnya.
Pada saat menerima wahyu yang pertama tersebut usia Nabi Mu­hammad SAW 40 tahun 6 bulan 8 hari (menurut perhitungan tahun Masehi), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari (menurut perhitungan tahun Hijriah). Setelah menerima wahyu dari Allah, Nabi Muhammad SAW buru-buru pulang meninggalkan Gua Hira' dalam keadaan gemetar, sehingga meminta istrinya untuk menyelimuti badannya.


 Taharah

النظافة من الايمان (رواه مسلم)

 Kebersihan adalah sebagian dari iman (Al - Hadits). Bagi umat islam memahami menghayati dan mengamalkan isi kandungan hadits tersebut wajib hukumnya. Islam sangat memperhatikan pentingnya kebersihan baik kebersihan jasmani maupun rohani. 
            Kebersihan jasmani berarti bersih hadas dan najis. Apabila kita akan menjalankan shalat harus  mandi dahulu, jika sedang berhadas besar.  Berwudhu  dahulu jika sedang berhadas kecil. Pakaian, badan, tempat harus suci dari najis.
Kebersihan rohani jauh lebih penting, karena jika kita akan menjalankan ibadah, hati kita harus bersih dari sifat iri, dengki, hasud, riya’, takabur, suudzan dan lain-lain
 Taharah menurut bahasa artinya  bersuci atau  bersih. Menurut istilah adalah bersuci dari hadas, baik hadas besar maupun hadas kecil dn bersuci dari najis yang meliputi badan, pakaian, tempat, dan benda-benda yang terbawa di badan.
Taharah terbagi menjadi dua bagian yaitu lahir dan batin. Taharah lahir adalah taharah / suci dari najis dan hadas yang dapat hilang dicuci dengan air mutlak (suci menyucikan) dengan wudu, mandi, dan tayamun. Taharah batin adalah membersihkan jiwa dari pengaruh-pengaruh dosa dan maksiat, seperti dengki, iri, penipu, sombong, ujub, dan ria.
 
Fungsi taharah dalam kehidupan sehari-hari, antara lain :
  1. Untuk membersihkan badan, pakaian, dan tempat dari hadas dan najis ketika hendak melaksanakan suatu ibadah.
  2. Dengan bersih badan dan pakaiannya, seseorang tampak cerah dan enak dilihat oleh orang lain karena Allah Swt, juga mencintai kesucian dan kebersihan.
  3. Menunjukan seseorang memiliki iman yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari-harinya karena kebersihan adalah sebagian dari iman.
  4. Seseorang yang menjaga kebersihan, baik badan, pakaian, ataupun tempat tidak mudah terjangkit penyakit.
  5. Seseorang yang selalu menjaga kebersihan baik dirinya, rumahnya, maupun lingkungannya, maka ia menunjukan cara hidup sehat dan disiplin.

Selasa, 21 Februari 2012


AL SYAMSIYAH DAN AL QOMARIYAH

 
Alangkah bahagianya menjadi umat Islam yang mampu membaca Al – Qur’an dengan baik dan benar. Dapat membaca dengan benar tentu harus mengerti dan memahami ilmunya. Adapun ilmu yang mmpelajari tentang hal itu dinamakan dengan ilmu tajwid. Di dalam ilmu tajwid diatur mengenai cara membaca panjang pendeknya huruf, membaca jelas atau berdengungnya suatu lafaz dan sebagainya.
Ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang dipergunakan untuk mengetahui makhraj, hukum bacaan dan sifat-sifatnya. Pada bagian ini akan dibahas mengenai salah satu ilmu tajwid, yakni menegnai hukum bacaan Al Syamsiyah dan Al Qamariyah.
 
1.      Al Syamsiyah
Al Syamsiyah disebut juga Idgham Syamsiyah. Dikatakan Idgham Syamsiyah karena suara Alif lam di idghamkan ke dalam huruf Syamsiyah yang ada dihadapannya, sehingga suara alif lam menjadi lebur karena dimasukkan dengan huruf Syamsiyah tersebut. Adapun huruf syamsiyah jumlahnya ada empat belas, yaitu :
ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن
Contoh :
َالتَّكَاثُرُ     اَ لثُّلُثُ    اَلدّ َهْرُ   اَلذِّ ْكُر
اَلرَّ حْمنُ     اَلسَّمَاءِ   اَلنَّعِيْمِ   اَلشَّيْطنُ   
2.      Al Qamariyah
Al qamariyah disebut juga Izhar Qomariyah. Al Qamariyah harus dibaca jelas dan terang. Alif  Lam yang dirangkaikan dengan salah satu huruf Qamariyah maka Alif Lam harus dibaca jelas. Adapun huruf Qamariyah jumlahnya ada empat belas, yaitu :
ب ج ح خ ع غ  ف ق ك م و غ ه ء ي   ا
Contoh :   
اَلْاَحَدُ    اَلْحَمْدُ    اَلمَقَابِرُ     اَلْيَقِيْنِ     اَلهُدَى 
اَلجَحِيْمِ  اَلقَارِعَةَ    اَلْفُرْقَانَ   اَلْغَفُوْرُ    اَلْكُفْرَ  
 
Perbedaan Al – Syamsiyah dan Al Qamariyah
1.      Al Syamsiyah
Penulisan Al Syamsiyah menggunakan tanda tasydid (ﹽ) pada huruf Syamsiyah yang berada di depan Alif Lam.
Contoh : اَلذِّكْرُ     اَلتَّكَاثُرُ     اَلثُّلُثُ                                            
2.      Al Qamariyah
Penulisan Al Qamariyah memakai tanda sukun ( ) pada huruf  lam
Contoh :
اَلْاَحَد    اَلْحَمْدُ      اَلقَارِعَةَ

Senin, 20 Februari 2012

Al Hadist

 “ Barang siapa yang meninggalkan salat Jumat tiga kali berturut-turut, karena sifat malas semata, maka Allah mencap dan menutup hati orang itu.” (H.R. Khamsah/lima ahli hadis)